“Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap Nabi itu musuh, yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin, sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). Jikalau Rabbmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan”. (QS Al-An’aam [6]:112)

Secara bahasa Ghazwul Fikri terdiri dari dua kata; ghozwah dan Fikr. Ghozwah berarti serangan, serbuan atau invasi. Fikr berarti pemikiran. Serangan atau serbuan disini berbeda dengan serangan dan serbuan dalam qital (perang). Secara Istilah Penyerangan dengan berbagai cara terhadap pemikiran umat Islam guna merubah apa yang ada di dalamnya sehingga tidak lagi bisa mengeluarkan darinya hal-hal yang benar karena telah tercampur aduk dengan hal-hal tak islami.
Tahapan Perang Pemikiran
1. Sebelum Pendudukan
Sebelum menguasai dan menduduki negeri-negeri Islam mereka telah melakukan usaha-usaha sistematis untuk memuluskan jalan menuju penguasaan penuh pada seluruh aspek kehidupan kaum muslimin. Usaha yang mereka lakukan pada masa itu adalah:
 Orientalisme
Gerakan ilmiah yang berorientasi kebudayaan masyarakat timur. Tujuan mereka beragam. Ada yang murni untuk studi ketimuran, namun kebanyakan ditunggangi kepentingan politik imperialisme. Orientalisme dalam politik imperialis adalah untuk mengetahui celah-celah dan kelemahan masyarakat timur.
 Kristenisasi
Usaha untuk mengkristenkan kaum muslimin dengan berbagai cara, terutama menambal celah dan menutup kelemahan kaum muslimin dengan kepentingan mereka.
 Memutuskan hubungan wilayah-wilayah negera Islam dengan membagi-baginya menjadi negara-negara kecil. Maka, kaum kufar sangat semangat untuk menumbuhkan benih permusuhan di antara negeri-negeri Islam.
2. Masa pendudukan
Orientalisme, lebih intens dengan kepentingan imperialisme. Kristenisasi, dengan dukungan birokrat dan struktur. Memisahkan agama dengan negara. Sebenarnya ini ironis, satu sisi mereka memaksakan agama kristen, namun mereka sendiri tidak mau menerapkan ajaran agamanya dalam praktek kehidupan. Mereka hanya ingin memandulkan agama supaya tidak ada jihad melawan penjajahan. Menyebarkan paham nasionalisme. Wilayah-wilayah yang sudah memisahkan diri dari kekuasaan khilafah Islamiyah menjadi sangat fanatik terhadap negaranya. Meruntuhkan kekhalifahan. Ini terjadi pada tahun 1924 dengan runtuhnya khilafah Utsmaniyah di Turki.
3. Pasca pendudukan
Meskipun kaum imperialis telah meninggalkan negeri-negeri jajahan itu namun pengaruhnya masih sangat kuat. Hal ini ditandai dengan terjadinya berbagai perubahan dalam kehidupan masyarakat, baik di bidang politik, sosial, maupun moral. Penetrasi yang mereka lakukan dalam bidang-bidang tersebut dilancarkan dalam kegiatan Orientalisme, Kristenisasi, Atheisme, Nasionalisme, dan Westernisasi.
Untuk melancarkan usaha-usahanya, mereka berusaha melakukan penetrasi yang kasar dan berani. Maka masuklah program-program itu ke dalam dunia pendidikan; mulai dari kurikulum hingga pemaksaan jabatan struktural yang strategis bagi orang-orang kristiani. Pers juga mereka manfaatkan dengan menunggang kendaraan yang sudah ada, menerbitkan brosur, koran, majalah, dan tabloid, di samping radio dan televisi. Bahkan mereka juga berhasil melakukan penetrasi ke lembaga-lembaga legislatif hingga hukum dan perundang-undangan pun menyesuaikan kepentingan mereka.
Sarana Perang Pemikiran
Betapapun berbeda ideologi, nama, wadah, dan kepentingannya, musuh-musuh Islam yang terdiri dari kaum atheis, Yahudi, Nasrani, Musyrikin dan munafiqin bersatu memerangi Islam dan kaum muslimin. Untuk sementara waktu, mereka dapat melupakan permusuhan dan konflik horizontal yang terjadi di antara mereka dalam rangka mencapai tujuan yang lebih besar dan menghadapi musuh yang lebih besar. Al-Qur’an menyebut mereka sebagai golongan sekutu [al-Ahzab] dengan kesombongan dan keangkuhan sebagai karakteristiknya.
Sarana-sarana yang mereka gunakan untuk mencapai tujuan busuk itu adalah:
1. Pers dan media informasi
Media cetak maupun elektronik telah mendapatkan posisi tersendiri di era informasi global ini. Ada pendapat yang mengatakan bahwa siapa yang menguasai informasi, ia akan menguasai dunia. Musuh-musuh Islam telah menggunakan media-media itu sebagai mimbar dan corong yang efektif untuk menyebarkan syubhat dan kemungkaran.
2. Pendidikan
Mereka menempatkan orang-orang nya di berbagai jabatan, bahkan memasukkan ajaran agama dan ideologi mereka ke dalam kurikulum di semua level. Melalui pendidikan mereka telah berhasil memurtadkan pemuda-pemuda Islam, terutama mereka yang telah diberi beasiswa untuk belajar di negeri-negeri barat.
3. Penerbitan
Mereka menerbitkan brosur, buletin, dan sejenisnya. Meskipun tidak terang-terangan, nilai-nilai kekafiran dan propaganda kefasikan sangat kentara dalam media-media mereka.
4. Hiburan
Mulai hiburan tradisional, modern, hingga reality show mereka manfaatkan juga. Untuk itu mereka tidak hanya mendirikan cafe-cafe, pub, bioskop, tempat-tempat lokalisasi, namun juga memanfaatkan radio, tv, internet dan sebagainya. Demikian itu karena hiburan sangat efektif untuk melalaikan umat dari agenda besar dan nasib memprihatinkan yang menimpa saudara atau negeri mereka.

5. Klub-klub
Klub seni dan budaya, hobi, bahkan klub arisan tak luput dari perhatiannya. Dalam kelompok-kelompok itu mereka menanamkan tradisi-tradisi jahiliyyah seperti khamr, judi, ikhtilath, standing party dan sebagainya.
6. Olah raga
Mereka menyebut prestasi dalam olahraga sebagai kepahlawanan yang pantas dibanggakan. Kalau hanya sebatas olahraga, tentu akan baik-baik saja. masalahnya adalah bahwa olahragapun mereka gunakan untuk melalaikan probema azazi kehidupan.
7. Yayasan dan LSM
Sebagiannya menggunakan nama Islami dan melakukan kegiatan-kegiatan yang terkesan Islami. Bahkan ada sejumlah gereja yang menggunakan pakaian adat masyarakat Islam berikut puji-pujian mereka dalam misa di gereja.
Seluruh usaha dan sarana itu mereka kerahkan secara simultan kepada sasaran paling empuk yaitu kaum mustadl’afin (kaum lemah). Hasilnya banyak di antara mereka yang miskin dan berpendidikan rendah itu murtad. Mereka itu menjadi sasaran empuk ghazwul fikri karena pengalaman membuktikan bahwa orang tidak akan berpindah dari agama Islam kecuali yang lemah imannya, ditambah lagi miskin, bodoh, atau beambisi terhadap kedudukan. Strategi yang mereka lakukan adalah memberi perhatian dan advokasi. Setelah bertanam budi, mereka minta komitmen.
Bahaya Perang Pemikiran
Perang pemikiran ternyata lebih berbahaya dibanding perang militer. Peperangan di medan laga bersifat limited, ada batas-batasnya. Perang tersebut paling berlangsung beberapa waktu, biaya yang bisa dihitung, jumlah korban yang dapat didata, kerugian yang dapat ditaksir, dan bahayanya pun sesaat. Sedang perang pemikiran sifatnya unlimited, serta tak terbatas. Perang tersebut dapat berlangsung selamanya, biaya yang tak terkira, jumlah korban yang tak bisa didata (karena banyaknya), kerugian yang dapat ditaksir, ban bahayanya pun turun-temurun.
Bentangan sejarah telah membuktikan bahwa banyak di antara negara-negara kecil yang meraih kemerdekaannya bukan karena persenjataan yang lebih canggih dibanding persenjataan penjajah. Bambu runcingnya rakyat Indonesia mampu mengalahkan kaum penjajah dengan persenjataan yang lebih hebat. Namun meskipun secara lahiriah bangsa ini telah memperoleh kemerdekaannya, secara psikis dan budaya mereka masih belum terbebaskan.
Di antara bahaya ghazwul fikri adalah: Tertipu (terpedaya) dengan ucapan, penampilan, dan prestasi-prestasi orang-orang kafir. Hal ini menjadi sangat berbahaya karena bangsa ini hanya menjadi konsumen dan penonton. Akibatnya mereka selalu menjadi pasar (konsumen) dan tidak mampu menjadi pelaku tatkala bersaing dengan bangsa-bangsa yang lebih kuat. Dampak ini semakin tampak jelas-tegas terutama setelah dunia memasuki pasar bebas.
Kecenderungan pada kekafiran. Hal ini terjadi setelah mereka kagum kepada orang-orang kafir dan tidak menyadari bahwa sebenarnya mereka memiliki potensi yang sama atau bahkan lebih besar. Akibatnya, mereka menjiplak segala yang datang dari kamu kufar. Kekaguman dan kecenderungan tersebut lambat laun melahirkan rasa cinta. Kecintaan kepada orang-orang kafir inilah yang akan mampu meninggalkan jati diri kaum muslimin.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s