“Katakanlah : “Dia-lah Allah, yang maha esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan, dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia.”” (Q.S. Al-Ikhlash [112]: 1-4)

Orang beriman bergerak dan berbuat karena kesadaran, tidak hanya terseok-seok oleh kepentingan yang bersifat rendahan. Dengan prinsip tauhidullah, orang beriman harus terus bergerak secara dinamis menuju ke arah perubahan yang lebih baik. Beberapa implementasi Tauhidullah dalam berbagai segi kehidupan.

1. Tauhidullah dalam Bidang Pendidikan.
Pendidikan yang menempatkan manusia sebagai aktor dan kepentingan utama adalah berbanding sejajar dengan misi tauhidullah. Manusia yangdikembangkan dalam cara pandang tauhidullah harus bersifat komprehensip. Oleh karena itu, manusia yang dikembangklan dalam pendidikan itu adalah manusia yang tidak dipisahkan dari kebersamaanya dengan Khaliknya. Konsep tarbiyah harus menjadi landasan pengembangan komunikasi edukatif yang senantiasa dibasahi dengan kasih sayang. Konsep taklim harus menjadi landasan dalam pengembangan kurikulum pengajaran dan pengembangan sistem intruksional.

2. Tauhidullah dalam Bidang IPTEK
Ilmu pengetahuan adalah hasil kajian manusia terhadap tatanan aturan yang telah diberlakukan oleh Allah pada alam, kerena itu seyogyanya ilmu pengetahuan mampu mengantarkan manusia melihat kehadiran dan keterlibatan Allah didalamnya, menghayati keagungan dan kebesaran-Nya, serta menumbuhkan kesadaran dan ketersediaan untuk tunduk dan mengerdilkan diri di hadapan-Nya. Maka tambahnya pengetahuan akan berbanding sejajar dengan tambahnya iman dan kesalihan. Semakin luas pengetahuan seseorang, semakin tajam dan peka dalam melihat segala fenomena, semakin jelas dan tepat memposisikan alam, dirinya, dan Allah dalam seluruh gerak dan tindakannya.

3. Tauhidullah dalam Bidang Sosial Budaya
Dalam perspektif tauhidullah, manusia utuh dinyatakan dalam kebersamaanya. Pertama, kebersamaan dengan Yang Maha Mutlak, dan kedua kebersamaan dengan sesamanya. Kebersamaan dengan Yang Maha Mutlak harus dimanifestasikan dalam kebersamaan dengan sesama makhluk. Tauhidullah mengajak manusia berfikir dan melihat kenyataan secara obyektif dalam kehidupan masyarakat. Dengan demikian, tauhidullah dalam diri seseorang tidak berujung dalam bentuk kesalehan individual, tetapi harus tampil dan berkontribusi pada kesalehan sosial. Kesalehan individu dan sosial ini dapat diwujudkan manakala orang dapat menghayati kehadiran Allah dan menghadirkan-Nya dalam konteks berjamaah.

4. Tauhidullah dalam Bidang Ekonomi
Keyakinan akan kehadiran Maha Pemilik akan mendorong lahirnya sikap jujur dan adil, sehingga hak-hak orang lain akan diberikan secara penuh dan ikhlas. Oleh kaarena itu, pemenuhan kebutuhan manusia melalui transaksi-transaksi ekonomi akan ditunaikan sebagai sarana pembagian hak antara pelaku ekonomi secara adil. Tauhidullah dalam bidang ekonomi akan mendorong lahirnya pemerataan dan kesejahteraan ekonomi. Kesejahteraan ekonomi tidak hanya diartikan sebagai terpenuhinya kebutuhan ekonomi semata, tetapi lebih jauh memberikan keberkahan secara spiritual.

5. Tauhidullah dalam Bidang Politik
Tauhidullah memandang kekuasaan yang ada pada tangan manusia bersifat sementara, bukan miliknya secara penuh. Allah pemilik segala kekuasaan. Tauhidullah memandang kekuasaan yang diperoleh manusia adalah amanat. Oleh karena itu, pada hari kiamat bisa jadi kehinaan dan penyesalan yang tiada tara, kecuali bagi orang yang mampu memenuhi tanggung jawabnya secara penuh. Kepentingan politik lebih merupakan kepentingan strategis untuk menata kehidupan bersama supaya berjalan senafas dengan pesan dan harapan masyarakat.

Kehadiran manusia hanya karena kehadiran Allah. Kebaikan manusia sesungguhnya karena kebaikan Allah. Jika tidak ada karunia dan rahmat Allah, niscaya tidak ada seorang pun yang dapat membersihkan dirinya untuk selama-lamanya. Setiap saat Allah menemui manusia melalui ayat-ayat-Nya. Baik yang tersurat maupun yang tersirat. Semuanya membisikan harapan-harapan terbaik bagi manusia. Pertemuan dan kebersamaan manusia dengan-Nya sesungguhnya merupakan suatu keniscayaan dari hakikat eksistensi manusia yang tergantung dan terarah kepada-Nya. Tanpa pertemuan dengannya, hidup manusia menjadi hampa, kehilangan makna dan arah yang hakiki dalam hidupnya.

Tauhidullah sebagai pondasi kehidupan seorang muslim akan memberi cara pandang mendasar terhadap segala segi dan aspek kehidupannya, mewarnai corak hidupnya secara khas, akhirnya akan membawa implikasi terhadap kondisi dan penataan sikap dan kepribadiannya. Tauhidullah akan mengimplikasikan sikap keberanian, keamanan, keselamatan, ketenangan, dan lain sebagainya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s