image

Senja ketika itu langit senja menguning. Ia akan berganti dengan gelapnya malam. Lalu Allah mempergulirkannya lagi dengan sejuknya pagi, teriknya mentari di siang hari, sebelum akhirnya bertemu dengan senja lagi. Di senja hari itu, entah kenapa sedikit terpikirkan tentang masa senja sebuah kepemimpinan.

Sudah hakikatnya, yang namanya amanah itu dipergilirkan. Bener? Sudah pasti. Setiap masa itu ada rijal-rijalnya. Setiap periode ada orang-orang yang akan mengemban amanah baginya.

Teringat sebuah kalimat indah dalam sejarah kisah para pengawal gerakan dakwah Islam.

“Masalah kepemimpinan ini hanya akan hancur di tangan dua jenis orang.
1. Orang yang berambisi untuk menjadi pemimpin, padahal ia tahu dan paham bahwa ia tidak memiliki kemampuan untuk memimpin.
2. Orang yang mati-matian menolak untuk menjadi pemimpin padahal dia tahu dan paham bahwa dia memiliki kemampuan untuk menjadi pemimpin.”
*Diucapkan oleh Abu Bakar Ash-Shiddiq, ketika memberikan nasihat kepada Umar bin Khattab yang ketika itu menolak amanah sebagai penerus Abu Bakar.

Jika boleh coba sedikit menambahkan poin yang serupa dari Abu Bakar di atas adalah perihal sadar diri.

Setiap orang adalah pemimpin. Jelas. Dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya. Masalah kepemimpinan bukanlah masalah jabatan, karenanya Ia adalah perihal tanggungjawab. Dengan atau tanpa jabatan, boleh jadi kita tidak bisa mengelak bahwa suatu urusan adalah tanggungjawab kita.

Sadar diri. Masalah tanggung jawab adalah masalah masa. Dan setiap masa ada pemudanya. Setiap masa ada masalahnya sendiri. Setiap kita, diberikan Allah SWT segumpal daging yang kata Rasul SAW, jika gumpalan daging itu baik maka baiklah seluruh tubuh kita. Demikian pula sebaliknya.

Dalam konteks sadar diri ini, Rasul SAW meminta kita untuk “istafti qalbak!” atau mintalah fatwa pada hatimu. Karena ia tidak akan pernah berbohong. Karena ia akan menjawab sesuai dengan kualitasnya. Karena ketika kita mencoba berdialog dengan hati kita, ketika itulah kita jujur. Hanya Allah SWT yang mendengarnya.

Sadar diri. Bukan berlindung dan pura-pura aman di balik kalimat, “ah, saya gak pantas di sini”, atau “ah, kayaknya dia lebih layak daripada saya”. Poin sadar diri bukanlah di sana.

Pernah saya berdialog dengan seorang sahabat, ada satu poin menarik. “Bahkan ketika ada 1% kemungkinan lu diberikan amanah tersebut, maka cukuplah satu persen tersebut jadi alasan lu untuk MEMPERSIAPKAN DIRI lu. Jika hari ini lu merasa belum, atau bahkan tidak pantas samasekali, maka merasa beruntunglah bahwa Allah masih memberikan lu waktu untuk mempersiapkan diri. Toh jika pada akhirnya lu tidak pantas, Allah gak akan memilih lu.”

Pernyataannyalah yg membuat saya tertohok dan membuat saya berkata di dalam hati “ni orang kenapa jadi bijak kaya gini. Dahsyat… bener banget ya” *sambil garuk-garuk kepala

Sadar diri. Poinnya adalah persiapan diri kita. Pertanyaannya bukanlah “apakah saya sudah siap?”. Tidak. Samasekali bukan. Tapi pertanyaannya adalah, “sampai kapan saya nyaman untuk tetap berdiam di sini, berpura-pura tidak sadar, dan enggan untuk mempersiapkan diri?”

Terakhir, mari bersama-sama kita renungi sebuah dialog luar biasa yang terjadi antara Allah SWT dengan para malaikat dalam surah Al-Baqarah ayat 30 : “Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, ‘Aku hendak menjadikannya (manusia) khalifah di muka bumi.’ Mereka berkata ‘apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memujiMu dan menyucikan namaMu?’. Dia berfirman, ‘Sungguh, Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”

Advertisements

One thought on “AMANAH

  1. Reblogged this on Indra Fitriyana and commented:

    Mungkin inilah yang dirasakan teman-teman seangkatan di satu organisasi yang sama dengan saya. Rasanya sulit dan berat. Bahkan jika diperhatikan kita (para ikhwan) tidak mengungkit masalah terkait amanah di grup ataupun di forum-forum tertentu. Bukan karena kita takut, tetapi lebih kepada beratnya tanggung jawab yang akan dipikul. Dulu sempat menulis tulisan ini. setidaknya inilah pengingat dan penguat untuk jiwa-jiwa mujahid teman-teman semua. #14Emas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s