Perjalananmu dimulai di pagi hari. Saat itu, seringkali kamu mengabaikan sapaan matahari. Pikiranmu hanya tertuju pada hal-hal duniawi : tentang janji pertemuan, tumpukan tugas harian, deadline dan betapa kamu harus memenangkan hari ini. Tak salah lagi, lelahmu dimulai sejak pagi.

Kapan waktumu dengan Allah?

Siang bagimu menjadi tak terlalu dirindukan. Setiap hari isinya sama saja : makan siang di tempat yang sama yang bahkan terkadang diselingi dengan pertemuan-pertemuan formal, atau hanya dihabiskan dengan membalas pesan-pesan singkat hingga kamu tak sempat menikmati rasa makananmu sendiri. Tak salah lagi, lelahmu memuncak di siang hari.

Kapan waktumu dengan Allah?

Katamu sore datang begitu cepat. Menjumpai Rabbmu di waktu Ashar bahkan dilakukan ketika jam kerjamu berakhir-hampir magrib. Tak salah lagi, hanya ada satu hal yang kamu pikirkan : berbaring di atas kasur dengan kesejukan AC yang menyelimuti.

Kapan waktumu dengan Allah?

Deadline menjadikan malammu sibuk seperti siang. Setiap jamnya, secangkir kopi di mejamu berganti menjadi baru. Hak tubuh menjadi terlupakan. Tak salah lagi, kamu tak ubahnya seperti mesin pabrik yang terus bergerak.

Kapan waktumu dengan Allah?

Sayang, atas semua lelah dan masalahmu dalam keseharian, pulanglah pada-Nya di sepertiga malam. Hanya Dia yang akan menerima segala kesahmu tanpa banyak alasan. Menangislah pada-Nya dan ceritakan segala hal yang perlu terungkapkan.
Biarkan doamu melangit ketika sujudmu membumi. Ya, pulanglah pada-Nya di sepertiga malam.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s