IMG_9055

Pagi itu matahari menampakkan cahayanya yang tidak terlalu terik. Tanah yang basah bekas hujan semalam masih tercium baunya. Teringat musim semipun akan segera datang. Bukan, bukan musim semi dalam hal meteorologi dan klimatologi, tapi musim semi dalam dakwah ini. Musim semi dimana pohon yang kokoh akan tergantikan oleh tunas yang mulai tumbuh, musim semi dimana bunga-bunga perubahan akan segera tercium baunya.

Teringat akan sebuah pelatihan Qiyadiyah beberapa bulan lalu, bahwa hari ini dakwah kita hanyalah sebatas itu-itu saja. Tidak ada yang dimunculkan dalam dakwah ini. Tidak ada kreatifitas dan inovasi dalam berdakwah ini. Tidak adanya pelayanan kepada umat ini. Apa artinya berdakwah tanpa adanya pelayanan kepada masyarakat kampus?

Pelayanan mungkin inilah bentuk dakwah ideal hari ini dikalangan objek dakwah kita terutama mahasiswa. Sudah tidak ideal lagi jika berdakwah dengan hanya naik di atas mimbar tetapi dakwah dengan memberikan pelayanan inilah contoh ideal dari dakwah kampus. Bahkan Rasulullah saw memberikan contoh terbaik dalam hal melayani objek dakwahnya. Teringat sebuah kisah Rasulullah saw dan seorang pengemis yahudi yang buta. Ketika itu pengemis yahudi buta tersebut selalu mengatakan “Wahai saudaraku, jangan dekati Muhammad, dia itu orang gila, dia itu pembohong, dia itu tukang sihir. Apabila kalian mendekatinya, maka kalian akan di pengaruhinya.”

Setiap pagi Rasulullah Saw mendatanginya dengan membawa makanan, dan tanpa berkata sepatah kata pun Rasulullah Saw menyuapi makanan yang dibawanya kepada pengemis yahudi buta itu walaupun pengemis itu selalu berpesan agar tidak mendekati orang yang bernama Muhammad. Rasulullah Saw melakukannya setiap hari hingga beliau Saw wafat.

Setelah kewafatan Rasulullah tidak ada lagi orang yang membawakan makanan setiap pagi kepada penegemis yahudi buta tersebut. Suatu hari Abu Bakar ra berkunjung ke rumah anaknya Aisyah ra. Beliau bertanya kepada anaknya, “Anakku adakah sunnah kekasihku yang belum aku kerjakan”, Aisyah ra menjawab pertanyaan ayahnya, “Wahai ayahanda engkau adalah seorang ahli sunnah hampir tidak ada satu sunnah pun yang belum ayahanda lakukan kecuali satu sunnah saja”. “Apakah Itu?”, tanya Abu Bakar ra. “Setiap pagi Rasulullah Saw selalu pergi ke ujung pasar dengan membawakan makanan untuk seorang pengemis yahudi buta yang berada di sana”, kata Aisyah ra.

Keesokan harinya Abu Bakar ra. pergi ke pasar dengan membawa makanan untuk diberikannya kepada pengemis yahudi buta tersebut. Abu Bakar ra. mendatangi pengemis yahudi tersebut dan memberikan makanan itu kepadanya. Ketika Abu Bakar ra. mulai menyuapinya, si pengemis yahudi buta tersebut marah sambil berteriak, “siapakah kamu ?”. Abu Bakar ra. menjawab, “Aku orang yang biasa”. “Bukan !, engkau bukan orang yang biasa mendatangiku”, jawab si pengemis yahudi buta tersebut. “Apabila ia datang kepadaku tidak susah tangan ini memegang dan tidak susah mulut ini mengunyah. Orang yang biasa mendatangiku itu selalu menyuapiku, tapi terlebih dahulu dihaluskannya makanan tersebut dengan mulutnya setelah itu ia berikan pada ku dengan mulutnya sendiri”, pengemis yahudi buta itu melanjutkan perkataannya. Abu Bakar ra. tidak dapat menahan air matanya, ia menangis sambil berkata kepada pengemis itu, aku memang bukan orang yang biasa datang padamu, aku adalah salah seorang dari sahabatnya, orang yang mulia itu telah tiada lagi. Ia adalah Muhammad Rasulullah Saw.

Setelah pengemis itu mendengar cerita Abu Bakar ra. ia pun menangis dan kemudian berkata, benarkah demikian?, Selama ini aku selalu menghinanya, memfitnahnya, ia tidak pernah memarahiku sedikitpun, ia mendatangiku dengan membawa makanan setiap pagi, ia begitu mulia. Pengemis yahudi buta tersebut akhirnya bersyahadat dihadapan Abu Bakar r.a. Masya Allah.

Begitulah Rasulullah Saw melayani objek dakwahnya, walaupun beliau selalu diejek oleh objek dakwahnya tetapi beliau tidak mudah marah atau ngambek. Beliau tetap fokus melayani objek dakwahnya. Rasullullah Saw memberikan teladan bahwa berdakwah perlu hati yang lapang dan kasih saying dalam melayani ummat. Bukan hanya sekedar program dakwah. Rasulullah melayani ummat dengan Ihsanul ‘amal. Hal ini terlihat ketika pengemis yahudi buta tersebut merasakan perbedaan pelayanan dari Abu Bakar ra. dengan Rasulullah Saw. Pelayanan Rasulullah Saw lebih sempurna.

Dalam kisah di atas, pengemis yahudi buta bersyahadat di hadapan Abu Bakar ra. bukan di hadapan Rasulullah Saw, karena Rasul Saw keburu wafat. Tetapi syahadatnya yahudi buta tersebut hasil dari pelayanan panjang Rasulullah Saw. Tidak ada yang instan dalam dakwah, semuanya perlu proses dan perlu waktu. Pelajaran inilah yang harus kita ambil. Kita selaku kader dakwah kadangkala tidak bisa memetik hasilnya langsung. Justru mungkin generasi selanjutnyalah yang akan memetik hasilnya.

Abu Bakar ra. melanjutkan pelayanan yang Rasullullah Saw lakukan dan justru pada saat itulah Allah memberikan hidayah kepada pengemis yahudi buta tersebut. Dalam kisah tersebut kita juga bisa belajar bahwa pelayanan yang kita lakukan haruslah terus menerus (istiqomah) dilakukan karena keistiqomahan pelayanan kita akan menjadi salah satu pintu hidayah bagi objek dakwah kita.

Abu Bakar ra. memberikan sebuah contoh yang bagus bahwa program pelayanan umat haruslah berkesinambungan. Apa yang dilakukan Abu Bakar ra. tersebut tidak lain adalah bukti keberhasilan Rasulullah Saw dalam menyiapkan regenerassi dakwah untuk melanjutkan program-program pelayanan umat. Ada program kebaikan yang dilakukan dan ada juga penyiapan orang yang akan melanjutkan program tersebut.

(Masih) belajar dari kisahnya Rasulullah Saw diatas, bahwa seorang kader dakwah haruslah memiliki hati yang lapang, hati yang luas, tidak mudah marah, tidak mudah tersinggung, tidak mudah sensitif terhadap prilaku orang atau objek dakwah kita. Seorang kader dakwah haruslah memiliki rasa peka terhadap objek dakwah dan dapat menganalisa sejauh mana objek dakwahnya bisa dibina.

Kader dakwah jangan melihat sejauhmana kebencian objeknya kepada kepada dakwahnya atau tingkat kejahiliyahan objeknya. Sebenci apapun objek dakwah kita kepada kita atau sejahiliyah apapun onjek dakwah kita terhadap Islam, maka sesungguhnya mereka masih mempunyai potensi kembali kepada Islam. Aspek keberhasilan dakwah yang kita lakukan berawal dari persepsi kita kepada objek dakwah. Perlunya kita berhusnudzon terhadap objek dakwah kita. Fokus kepada setiap peluang-peluang yang datang, yang bisa jadi itu adalah jalan hidayah bagi objek dakwah kita.

Pentingnya hari ini kita memberikan pelayanan yang seoptimal mungkin kepada masyarakat kampus, dibarengi dengan hati yang lapang dan sabar. karena semakin heterogen masyarakat kampus akan semakin sulit jika hanya kita tembus dengan berbicara diatas mimbar. Perlu program-program yang heterogen juga untuk mengetuk hati masyarakat kampus yang heterogen. Salah satunya adalah dengan cara pelayanan dan manajemen emosi.

Wallahu’alam bishawab.

*ditulis oleh orang yang sangat mencintai wajihah dakwah kampusnya, terkhusus orang-orang yang ada didalamnya. #Inspirator #BersamaMenginspirasi

Advertisements

4 thoughts on “PELAYANAN DAN MANAJEMEN EMOSI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s