20160825_120046

Bismillah…

Izinkan saya memohon ampun kepada Allah atas keterbatasan saya dalam ilmu dan semoga Allah memudahkan hati dan akal kita untuk menerima kebenaran/petunjuk dari-Nya serta mengamalkan petunjuk tersebut. Aamiin.

Belajar Fiqih itu asyik boy…. Foto diatas tuh fotonya Bulughul Maram karya Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-‘Asqolani, tapi cuma terjemahannya hehe. Bulughul Maram ini isinya tentang fiqih-fiqih dasar seperti kitab Air, Wudhu, Jinayat, Huduud, dll. Awalnya saya sama sekali tidak tertarik soal fiqih karena saya anggap fiqih ini masalah yang ribet, sering di perdebatkan dan bermacam-macam pendapat. Sampai-sampai murabbi saya dulu pernah bilang “Akh, ente belajar yang kaya gitu terus (belajar pemikiran Islam), tapi fiqih islam jarang dipelajari. Banyakin belajar fiqih dulu”. Sampai akhirnya mencoba untuk belajar fiqih dikit-dikit baik dari buku, liqo, ta’lim, gugel ataupun yutub.

Dari proses belajar tersebut ternyata tetap saja banyak yang saling bertolak belakang. Misal di gugel dalam satu situs menyebutkan bahwa hukum isbal (melabuhkan pakaian hingga menutup mata kaki) itu tidak diperbolehkan, disitus lain diperbolehkan asalkan tidak membawa rasa sombong. Atau masalah qunut dan tidak qunut dalam sholat shubuh yang banyak diperdebatkan juga. Padahal yang salah adalah jika kita tidak memakai celana dan tidak sholat shubuh. Bener gak? hehe. Terkait dua hal itu banyak sekali oraang-orang yang KEUKEUH dengan pendapat mereka. Hujat-menghujat. Bahkan sampai mengkafirkan dan membid’ahkan yang lainnya. Padahal inilah hal yang saya tidak suka.

Seringkali saya melihat bahwa umat berselisih dalam hal-hal yang tidak perlu diperselisihkan. Kasus debat masalah qunut dan isbal, misalnya. Sebetulnya masih dapat dirujuk kepada para ulama madzhab, bagaimana mereka menyelesaikan perbedaaan antar sesama mereka. Inilah kita, seringkali menganggap sebuah pendapat sudah final dan pendapat orang lainlah yang baru, dan karenanya salah. Kita lupa untuk melacak perbedaan ini dalam sejarah Islam untuk mengetahui adakah perbedaan serupa di masa lalu dan bagaimana para ulama dahulu menyikapinya

Perbedaan semacam ini, jika tidak segera ditengahi, dapat beralih menjadi perpecahan yang tidak perlu. Seringkali gejalanya berupa munculnya lapisan orang-orang yang karena merasa sudah belajar agama, merasa dapat ilmu dari ulama yang benar, merasa sudah memonopoli kebenaran hingga menjatuhkan vonis berupa bid’ah dan kafir kepada pihak lain yang tidak sejalan.

Menyakitkan bahkan benar-benar menyakitkan jika kita divonis ahlul bid’ah. Hal semacam ini menciptakan jarak-jarak yang tidak perlu antar muslim. Sebagai konsekuensinya, akan terbentuk kelompok A, B, C dan seterusnya, hanya gara-gara masalah fiqih. Ini sudah terjadi sejak zaman ormas-ormas LOKAL hingga kini ketika marak pula golongan-golongan IMPOR.

Jika gejalanya sudah sampai pada tahap kronis seperti ini, maka orang awam menjadi korban. Pertama, mereka bisa ikut-ikutan gemar memvonis tanpa tahu fiqih ikhtilaf-nya. Kemungkinan kedua, mereka bisa jadi malah beralih menjauh dari dakwah, setelah mengetahui dengan salah paham bahwa ternyata “Islam mah susah”. “Islam mah hese”. “sedikit-sedikit haram, sedikit-sedikit salah.”. Yaelah lu gak paham ya fiqih menyampaikan syiar?. What the…..

Jika munculnya lapisan umat yang terlampau saklek (kaku) seperti di atas, maka disisi lain akan muncul pula selapisan orang yang justru sok berbeda, sok fleksibel (lentur) dalam fiqih. Mereka memegang keyakinan bahwa fiqih itu lentur dan dapat berubah-ubah sesuai zaman, dan oleh karenanya kita harus bertoleransi terhadap perebedaan dalam perkara fiqih.

Namun anehnya, mereka yang berkeyakinan sok fleksibel begitu justru malah tidak toleran terhadap saudara muslim lainnya yang memegang secara teguh hal-hal tertentu yang memang berada dalam wilayah prinsip, misalnya perkara kewajiban mengenakan jilbab bagi muslimah yang dianggapnya budaya Arab, ini jaman modern, fashionpun harus modern. Hey! Ayolah…. Mereka berpendapat bahwa Islam itu fleksibel sembari memvonis saudara muslim lainnya dengan sebutan kolot, gak gaul, tidak modern dan semacamnya, hanya gara-gara tidak mau ‘fleksibel’ dalam berfiqih. Sungguh orang-orang gilaaaa….

Coba kita pikirkan kenapa ada mazhab-mazhab dalam fiqih? Bagaimana bisa lahir mazhab-mazhab tersebut? Merasa bahwa perbedaan-perbedaan fiqih baru terjadi di masa kini adalah sikap yang salah. Pada masa lalu pun perbedaan-perbedaan itu sudah terjadi. Inilah yang memicu lahirnya mazhab-mazhab fiqih.

Namun, lahirnya mazhab-mazhab tersebut tidak lantas menimbulkan perpecahan umat karena para imam mazhab, dan demikian pula para ulama, menyikapi perbedaan-perbedaan itu secara bijak. Contohnya adalah kisah Imam Syafi‘i yang mengimami shalat subuh di masjid yang bersebelahan dengan kubur Imam Hanafi. Beliau shalat tanpa membaca doa qunut dan apabila ditanya seseorang sehabis shalat, Imam Syafi‘i menjawab: “Masa aku hendak melakukan sesuatu yang berlainan dari apa yang diajarkan olehnya (Imam Hanifah) padahal aku berada disebelahnya”. Walaupun pada asalnya Imam Syafi‘i berpendapat bahwa doa qunut itu sunah dibaca dalam shalat subuh tetapi pendapatnya itu dikebelakangkan sebagai menghormati Imam Hanafi yang berpendapat doa qunut itu tidak sunah dibaca. Disamping itu Imam Syafi‘i juga tidak berqunut pada pagi itu untuk memudahkan jamaahnya yang mayoritas pada saat itu adalah pengikut Imam Hanafi.

Sekarang kita pikirkan. Kita yang di grass-root atau kita yang baru belajar agama kemarin ini malah membuat perbedaan-perbedaan itu menjadi perpecahan, tidakkah kita telah merasa lebih alim dari para imam mazhab? Astagfirullah. Menganggap bahwa fiqih merupakan sesuatu yang final dan sudah dari sono-nya begitu hingga tidak terima terhadap perubahan telah menghilangkan fungsi fiqih sebagai solusi bagi permasalahan kehidupan. Demikian pula, menganggap fiqih sebagai hukum yang sangat lentur hingga dapat mengikuti selera zaman yang terus berubah juga berarti meremehkan hukum Allah. Saya selalu ingat perkataan Murabbi saya bahwa adanya fiqih adalah solusi bagi setiap permasalah kehidupan, bukan sebagai permasalahan yang tidak dapat dipecahkan. Selama perbedaan itu masih bisa di rujuk gak masalah kan?

Secara sederhana, fiqih memiliki dua wilayah. Ada wilayah prinsip (Ushul), dan ada wilayah cabang (Furu’). Wilayah prinsip atau ushul serupa dengan hukum alam, tidak bisa diubah. Ada beberapa hal dalam fiqih yang seperti ini, biasanya ditandai dengan dalil-dalil yang jelas, seperti hukum-hukum dalam qur’an. Inilah yang menjadi prinsip dalam penentuan hukum Islam. Dalil-dalil yang jelas menjadi “instruksi langsung” dari Allah untuk dikerjakan, tanpa bantahan, tanpa multitafsir. Kami dengar dan kami taat.

Wilayah kedua adalah wilayah fleksibel (Furu’), atau lebih tepat disebut sebagai wilayah perbedaan. Biasanya ditandai dengan dalil-dalil yang kurang jelas/dugaan yang masih memungkinkan munculnya perbedaan penafsiran, atau karena beragamnya kekuatan dalil. Persoalan furu’ seperti qunut, gerakan shalat, isbal, music, penentuan jenis zakat fitrah, metode dakwah dan semacamnya adalah wilayah yang membolehkan adanya perbedaan sepanjang berdiri di atas argumentasi yang valid alias memiliki dalil.

Wilayah kedua ini adalah wilayah diberlakukannya menggali hukum-hukum dari Qur’an dan Sunnah untuk menyelesaikan permasalahan baru (Ijtihad). Ijtihad memungkinkan fiqih dapat menjawab permasalahan kontemporer yang belum pernah muncul di masa lalu. Produk ijtihad itulah yang kini populer dengan sebutan ‘fatwa’. Contohnya adalah masalah tentang Smartphone. Di zaman Rasulullah Saw tidak ada yang namanya Smartphone, lantas apakah HP dan sejenisnya haram untuk digunakan? Kemudian TV. Di zaman Rasulullah Saw tidak ada yang namanya TV lantas apakah itu haram digunakan? Tentu saja tidak, asalkan kita menggunakan kedua alat tersebut untuk kebaikan, pada waktu yang tepat dan pada saat yang tepat pula.

Inilah dua wilayah fiqih yang seiring sejalan dalam menyelesaikan permasalahan manusia. Membenturkan kedua hal itu adalah sikap yang menunjukkan ketidakpahaman terhadap karakter fiqih Islam. Namun, walaupun fiqih Islam memiliki dua aspek tersebut, kita masih harus tetap waspada terhadap sebagian pihak yang memahaminya secara kebablasan. Mereka mencoba menjadikan fiqih Islam terlampau lentur, dengan dalih agar Islam tetap sesuai dengan zaman.

Cukuplah orang-orang JIL -Jamaah Islam Lieur- yang seperti ini. Orang-orang semacam ini ada yang berpendapat jilbab tidak wajib karena itu budaya Arab, wanita muslimah boleh menikahi orang kafir, pemimpin gak mesti seorang muslim. Kan Lieurrrr…..

Komunitas lieur seperti ini, yang dalam satu dekade ini telah terang-terangan menyematkan kata liberal untuk nama kelompok mereka, bermasalah dalam menentukan standar penentuan hukum. Mereka yang silau dengan pemikiran asing menjadikan hermeneutika sebagai metode tafsir. Tau Hermeneutika? Makannya ikut Sekolah Pemikiran Islam wkwk. Dan juga menjadikan nilai-nilai humanisme, demokrasi, emansipasi wanita dan modernisme sebagai standar penentuan hukum fiqih. Jelas saja, ayat-ayat pun ‘diperkosa’ demi menyesuaikan Islam dengan apa yang mereka sebut sebagai masyarakat modern.

Bagi saya, kejumudan dan kebekuan dalam fiqih Islam harus didobrak, demikian pula lenturisasi fiqih mesti ditolak. Dua sisi berlawanan ini sama-sama menghilangkan fungsi asal fiqih sebagai pemecahan permasalahan manusia lewat ketaatan pada Allah. Fiqih harus dijaga agar wilayah prinsipnya tetap berlaku final dan tidak berubah sepanjang zaman, di sisi lain juga wilayah furu’nya dapat menjawab permasalahan-permasalahan baru yang muncul di setiap zaman, hingga fiqih tetap relevan dengan perubahan masa.

Saya ingin mengajak para hamba Allah yang membaca tulisan ini untuk merenungi dari apa yang saya sampaikan diatas. Salah satu hal yang menjadi poin inti dari hal tersebut adalah terserah anda semua mau dari golongan impor ataupun golongan lokal. Mau dari NU, Muhammadiyah, Persis, Tarbiyah, HTI, Salafi, ataupun dari Jamaah Tabligh. Terserah saja. Yang paling penting adalah PERSATUAN UMAT ISLAM. ISLAM TIDAK AKAN BANGKIT TANPA ADANYA PERSATUAN UMAT. Dalam menilai sesuatu itu, jangan hanya dilihat dari sudut pandang golongan yang sempit. Tapi coba buka kepala kita, dan berpikir dari sudut pandang lainnya. Misalnya adalah persatuan umat ini.

Tidakkah para hamba Allah ini merasakan pentingnya persatuan Islam. Hari ini persatuan Islam benar-benar dibutuhkan. Ketika ada orang-orang diluar sana yang menistakan Al-Qur’an dan agama Islam sampai mendukung penistaan tersebut, tidakkah para hamba Allah ini merasa marah?. Saya benar-benar Marah. “Dan sungguh Allah telah menurunkan kekuatan kepada kamu di dalam Al Quran bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan (oleh orang-orang kafir), maka janganlah kamu duduk beserta mereka, sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain. Karena sesungguhnya (kalau kamu berbuat demikian), tentulah kamu serupa dengan mereka. Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan semua orang-orang munafik dan orang-orang kafir di dalam Jahannam,” ( QS. An-Nisaa : 140 )

Tetapi disisi lain saya benar-benar takut. Takut akan adzab dari Allah kepada negeri ini. Selalu terngiang di kepala terkait dengan satu hadits qudsi bahwa Allah SWT memerintahkan diturunkan adzab kepada suatu kaum pelaku kemungkaran. Malaikat bertanya, “Bukankah di dalamnya ada seorang shalih bernama si Fulan?”.“Ya, Justru mulailah adzab itu dari dia, karena wajahnya tidak pernah memerah karena Aku!”, Jawab Allah SWT. Hadits tersebut luar biasa. Wajah yang tidak memerah (marah) melihat kedzaliman dan tidak peduli dengan hal itu adalah yang mengundang adzab dari Allah. Astagfirullah.

14494826_10155306126617785_8188257256214287084_n

(Sumber : facebook)

Tulisan ini pengingat untuk diri saya pribadi dan pengingat untuk hamba Allah yang bersilaturahmi ke blog saya. Mari kita luruskan pemahaman Islam kita, ayo kita fahami islam secara meyeluruh. Politik, ekonomi, social, budaya, dan lain-lain perlu juga kita fahami. Jangan terjebak dengan politik fiqih yang kaku dan politik fiqih yang lentur, semua itu adalah politik pecah belah umat Islam. Saya memohon kepada Allah atas keterbatasan saya dalam ilmu dan semoga Allah memudahkan hati dan akal kita untuk menerima kebenaran/petunjuk dari-Nya serta semoga kita termasuk kedalam orang-orang yang bisa menempatkan segala sesuatu kedalam tempatnya dan bisa bijaksana dalam menilai segala seuatu yang ada di depan mata kita. Aamiin.

Wallahu’alam Bishawab.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s