Hasil gambar untuk aksi 4 november

Sudah 2 hari sejak dimulainya aksi damai 411. Tetapi suasana aksi tersebut masih ada di dalam jiwa ini. Terlebih ketika ikut aksi tersebut, air mata tak bias saya tahan lagi. Melihat ratusan ribu orang turun ke jalan demi menegakkan hukum atas penistaan agama yang dilakukan oleh Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok.

Merinding rasanya di setiap lini masa medsos dijumpai photo-photo aksi tersebut. Seluruh umat muslim dari penjuru nusantara berdatangan dan berkumpul di Ibukota negeri ini. Semua saling menghormati. Gema takbir dan shalawat tak henti diagungkan. Merinding rasanya, menetes sudah air mata. Hebat mereka melakukan aksi ini. Jumat 4 November 2016 di Masjid Istiqlal luber dengan jamaah shalat jumat dan ketika muadzin mengumandangkan Adzan, air mata ini benar-benar tidak tertahankan lagi. Seolah-olah inilah hari kemenangan yang nyata bagi umat ini. Luar biasa. Allahu Akbar!

Hari itu ratusan ribu umat Islam turun ke jalan, mereka marah karena agamanya, mereka teriak karena kemarahan atas ketidak adilan terhadap agamanya. Mereka berkumpul untuk membela agamanya. Tetapi apa yang kami dapat? Dari pagi kami berkumpul untuk mengadu kepada pak Presiden, dan yang kami dapat adalah pak presiden tidak ada di istananya.

Amat sangat disayangkan pak presiden lebih memilih meninjau proyek kereta bandara dibandingkan menemui ratusan ribu rakyatnya yang berdiri menantikan pak presiden. Padahal presiden indonesia yang katanya terlabel merakyat tetapi tidak mau menemui rakyat. Yang katanya sering blusukan menemui rakyat, giliran rakyat yang menemui Anda ternyata anda malah gak ada.

Saya percaya Pak Presiden sesungguhnya tidak ada niat meninggalkan rakyatnya. Jokowi yang saya kenal dengan blusukannya amat dekat dengan rakyatnya. Ketika masih menjadi wali kota Solo bahkan ketika sudah jadi Gubernur DKI beliau sempati menjumpai rakyatnya berdiskusi. Rakyat adem tidak tersakiti. Akan tetapi kita saksikan kemarin ketika para Ulama dan ratusan ribu rakyatnya ingin bertemu secara baik-baik kok sikap pak Jokowi jadi begitu, apa yang terjadi?

Ah, saya baru ingat, Pak Presiden kan punya wakil ya, jadi biarkan wakilnya yang menemui ratusan ribu orang tersebut. Ah, tapi ya pak, kenapa tidak dibalik? Kenapa tidak wakil bapak yang meninjau kereta bandara dan bapak menemui rakyatmu itu?

Pak presiden yang terhormat, saya lihat bapak begitu peduli dengan aksi yang viral di media sosial, sebut saja kasus warteg yang ditutup paksa bulan ramadhan lalu. Bapak ingatkan? Bapak waktu itu nyumbang kan? ngurusin kan ya pak. Tapi ya pak demo yang sudah direncanakan berhari-hari kok bapak malah tidak mau hadir? Bapak kemana? Bapak takut? Padahal ratusan ribu orang itu hanya ingin bertemu bapak. Mereka hanya ingin pengertian bapak dan keadilan. Lihat pak, karena tak ada bapak, massa telat bubarkan diri, chaos pak.

Menurut Seskab Pramono Anung yang sempat berkomunikasi, Presiden yang ketika itu sedang meninjau proyek kereta Bandara sebenarnya ingin segera pulang ke Istana tapi kondisi jalan tidak memungkinkan untuk kehadiran beliau. Jadi rasanya memang bukan sekedar macet tapi situasi dan kondisi jalan tidak memungkinkan untuk kehadiran beliau.

Bicara urusan macet saya jadi ingat Syahrini. Bagaimana Syahrini mengatasi kemacetan?

a

Dari kampung halamannya di Sukabumi menuju Jakarta Syahrini hanya menempuhnya beberapa menit saja, Syahrini betul-betul berada diatas kemacetan. “Bye bye Sukabumi…bye bye macet” itu kata Syahrini. Syahrini menunggangi capung besi raksasa, ya Syahrini naik helikopter untuk mengatasi macet. Syahrini sigap ya…..

Teruntuk pak Jokowi yang katanya presiden negeri ini, di Negeri yang mayoritas Muslim, di negara hukum yang menjunjung tinggi nilai-nilai ke bhinekaan, semestinya saya dan ratusan ribu orang tersebut tidak perlu turun ke jalan untuk menuntut ketidak adilan ini, semestinya bangsa ini aman, damai dan tentram dalam keharmonisan. Seandainya negara hukum ini benar-benar berpijak diatas hukum dan menjunjung tinggi nilai-nilai keadilan. Tapi karena ini tidak terjadi, negeri yang kami cintai ini hukum hanya berlaku hanya untuk yang lemah. Demi kepentingan hukum dilanggar, demi kekuasaan hukum tidak diindahkan. Maka kami harus turun kejalan, kami harus teriak lantang menuntut semua ini, agar umat Islam pemilik bangsa ini tidak selamanya tertindas. Kalau aksi damai ini, tidak diindahkan, kira-kira apalagi cara kami untuk menjunjung nilai-nilai hukum di Negeri ini?

Mungkin ini coretan sederhana dari seorang mahasiswa yang jarang berdemo atau jarang turun ke jalan untuk menyuarakan aspirasinya. Tetapi saksikanlah ya Rabb hamba telah menyampaikan pesan kebenaran untuk penguasa negeri ini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s