1455424904066

Ada begitu banyak momen-momen dimana kita sering menyesali keputusan-keputusan yang dibuat oleh qiyadah (pemimpin) kita. Atau ada pula pada suatu episode, kita bersepakat dengan beberapa kebijakan yang dibuat oleh qiyadah kita. Terkadang kita sering berharap bahwa qiyadah tersebut harus seperti ini dan seperti itu. Terkadang juga kita membuat suatu patokan, bahwa qiyadah itu mesti yang ini dan mesti itu. Atau ada juga yang berpaatokan bahwa qiyadah A dan qiyadah B harus mempunyai kesamaan dalam hal memimpin. Bro and Sis permasalahan seputar qiyadah itu kompleks.  Lu gak bisa menjudge seorang qiyadah harus seperti ini, seperti itu, punya sifat ini dan itu. Tak jarang kita jumpai banyak para kader dakwah yang kemudian mesti berselisih dan pada akhirnya menyepi karena berbenturan ataupun bersebrangan dengan kebijakan, watak, maupun pilihan yang berasal dari qiyadah tersebut.

Qiyadah -sebagaimana kita tahu- adalah seorang pemimpin. Pemimpin dari suatu sistem maupun organisasi/wajiha. Jika dibatasi dengan konteks kejamaahan kita, qiyadah adalah seorang yang dipilihan berdasarkan hasil dari keputusan syuro atau musyawarah. Tentu ia memiliki beragam kapasitas dan pertimbangan hingga akhirnya dipilih menjadi seorang qiyadah. Baik itu tarbiyahnya, tsaqofahnya, militansinya, watak dan karakternya, ma’aliyahnya, latar belakang keluarganya, hingga kepada fikrohnya. Semua menjadi pertimbangan yang matang bagi orang-orang yang terlibat dalam musyawarah untuk mempertimbangkan seorang qiyadah itu apakah memiliki kapasitas atau tidak.

Qiyadah -seberapa matang dan bijaknya pilihan dari musyawarah- tetaplah seorang manusia. Yang pada akhirnya sering kita temukan celah-celah kemanusiawiannya, maka, kitapun mengenal yang namanya sebuah tim inti atau pengurus inti. Tim yang dibentuk untuk meminimalisir timbulnya celah-celah kesalahan itu, agar setiap keputusan qiyadah itu tetap merupakan keputusan bersama. Tim inti ini juga merupakan manusia-manusia pilihan yang dibentuk agar mampu membantu kinerja sang qiyadah tadi. Mampu menggapai targetan-targetan wajiha yang tengah diemban oleh qiyadah tadi. Dan mestilah tim inti ini dibentuk atas rekomendasi dari qiyadah tadi; kedekatan emosionalnya, kenyamanan dalam berinteraksi, komunikasi, latar belakang tarbiyah dan sebagainya merupakan pertimbangan bagi qiyadah memilih tim inti ini.

Menjadi seorang qiyadah bukanlah perkara mudah dan ringan; Berat dan menyesakkan, letih dan merapuhkan, terkadang membuat uban menyubur di kepala dan bahkan membuat selera makan tak timbul. Artinya disini, qiyadah adalah sebuah amanah yang bukan main-main. Ini tentang pertanggung jawaban qiyadah tersebut di akhirat nanti. Ini tentang selalu menjaga kredibilitas dirinya di depan jundinya. Tentang selalu bersikap optimis dan hamasah, meski kadang suasana hati sedang tak mendukung. Ini juga tentang tadhiyah yang bercucuran keringat, jam istirahat yang terkurangi, juga tentang dilematis antara amanah dakwah, keluarga, dan kuliah.

Qiyadah bukanlah tentang hak. Tetapi tentang penunaian kewajiban. Bahkan terkadang lebih banyak kewajiban itu sendiri dibandingkan hak yang ia miliki. Qiyadah artinya tentang tanggung jawab moral dirinya dan musyawarah yang telah memilihnya di hadapan manusia dan para penghuni akhirat. Qiyadah artinya tentang keluasan ilmu yang ia miliki dibandingkan para jundinya. Qiyadah artinya tentang kezuhudan maknawinya dihadapan ujian yang melekat; tahta, harta, wanita. Qiyadah kadang tak luput dari penyakit megalomania, merasa diri lebih besar dan benar. Dan ini sangat membahayakan sistem dan wajiha dari tempat qiyadah tadi bernaung.

Qiyadah itu selalu berhubungan dengan antipati salah satu jundi yang terkadang sulit untuk memahami dan menerima setiap kebijakan dirinya. Tak jarang qiyadahlah yang mesti selalu memaklumi dan meminta maaf lebih dulu kepada salah satu al akh tadi. Ia mesti datang lebih awal dari seluruh anggotanya. Sulit berkata tidak jika ada amanah lanjutan. Susah untuk tidur dan istirahat dengan tenang jika hasil rapat tadi belum benar-benar terkonkretisasi. Tak jarang ia sering banyak-banyak bertafakur, berkhalwat dengan langit, dan menangisi takdirnya yang sulit dan menghimpit ini.

Itulah tentang qiyadah, yang berasalkan dari sudut pandang saya pribadi. Jauh dari beragam teori-teori para ahli tentang kepemimpinan ataupun tentang pemangku kekuasaan. Tapi berasalkan dari pembelajaran dan juga perenungan. Sebagai pewarisan nilai-nilai dan gagasan bagi janin-janin dakwah baru yang mulai bertumbuh dan membesar. Agar mereka tidak hilang arah dan tujuan. Pewarisan gagasan, pewarisan mimpi-mimpi, dan juga tentang pewarisan cita-cita. Agar kelak kampus ku bisa lebih hebat dari kampus kalian. Dan lihatlah nanti, suatu saat, kamilah yang akan menjadi hot-line dari perguruan tinggi di Indonesia. Duduk dan perhatikan saja, jika aku sudah berkhayal untuk terbang, tak akan ada manusia satupun yang mampu menjatuhkannya.

Allahu Akbar!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s